Rumah Budaya Depok Gelar Obsesi Penyair Muda

Sore itu waktu menunjukan pukul 14.00 WIB, di-ujung gang yang jauh dari hiruk pikuk ramainya Kota Depok, rombongan anak-anak pelajar SLTA berseragam putih hitam tampak sibuk menurunkan berbagai alat musik tradisional.

Beberapa orang tampak menggotong peralatan musik khas Jawa Barat, Angklung, sementara yang lainnya terlihat memanggul Kendang, keybord dll. Sementara satu orang berpakaian batik, guru mereka, tampak sibuk pula mengatur berbagai hal yang diperlukan.

Ya, mereka adalah siswa-siswi SMA Al Muhtadin, Kota Depok, yang sore itu mendapat giliran untuk berlatih dalam kegiatan Obrolan Seni dan Apresiasi Penyair Muda (OBSESI) yang diadakan oleh Rumah Budaya, Kota Depok.

Menurut penghuni Rumah Budaya, sekaligus panitia pelaksana, Torben Rando Oroh bahwa OBSESI merupakan forum diskusi, workshop penulisan, pementasan dan penerbitan puisi, terutama bagi kawula muda dan pelajar di Kota Depok khususnya dan warga masyarakat secara umum.

“Ini merupakan bagian dari berbagai kegiatan yang ada di Rumah Budaya,”jelas pria yang akrab disapa Rando. Kegiatannya ini lanjutnya, rutin diadakan setiap hari Jumat minggu kedua dan Jumat minggu ke-empat.

Dalam kegiatan ini, diakui Rando yang kini juga menjabat sebagai Ketua Umum DEPOK UNITE, tidak lain untuk memberikan ruang kreatifitas bagi anak-anak muda. Kami dari Rumah Budaya, hanya sebagai fasilitator, jelasnya.

Pada pertemuan di Rumah Budaya sore itu, mereka mendiskusikan tentang sosok dan penyair Chairil Anwar, setiap yang hadir diwajibkan untuk membacakan karya-karya Chairil Anwar. Acara semakin seru ketika kolaborasi musik etnik dari Band Cerutu dan Selera Pedas Band, terus mengalun mengikuti setiap peserta yang membawakan sajak-sajak Chairil Anwar.

Para siswa-siswi yang baru pertama kali membacakan puisi dengan rasa canggung dan malu-malu, lama-lama terbius oleh alunan lagu yang mendayu, sehingga tidak terasa greget dan semangatnya dalam membacakan puisi terus muncul.

Kolaborasi musik etnik, terus mendayu, kali ini monolog puisi dari anggota Teater Gedek dan musikalisasi puisi Musik Sungsang, yang dibawakan oleh para penghuni Rumah Budaya. Suananapun semakin meriah. Ini semua untuk menumbuhkan semangat anak-anak muda dalam apresiasi sastra yang kini sudah banyak dilupakan. Seolah mereka merayakan berbagai pikiran positif yang tumbuh di kepalanya, merayakan masa depan di genggamannya.

Sekilas Rumah Budaya Depok

Rumah Budaya, Kota Depok yang berlokasi di Jl.Nangka Ujung No.1001 Depok Jaya, Pancoran Mas, Kota Depok menempati areal hampir satu hektar. Lahan rimbun yang dikelilingi oleh pohon-pohon bambu, memiliki dua empang masing-masing berukuran kurang lebih dua ratus meteran, empang ini untuk memelihara ikan, dan biasa pula di manfaatkan untuk lomba memancing.

Sementara di tanggul pinggir sekeliling empang ditanami berbagai sayur-mayur, terlihat ada pohon cabe, singkong, dll. Pada musim kemarau seperti saat ini, air kolam bisa dimanfaatkan untuk menyiran tamanan yang ada.

Di sisi, pintu masuk dari jalan ada dua bangunan tua bernuansa etnik, perpaduan antara batu bata dan anyaman bambu, sehingga menambah suasan cukup nyaman. Tikar dan karpet seadanya digelar untuk alas mereka duduk, dan berdiskusi.

Menurut para pengurus yang biasa disebut ‘penghuni’ Rumah Budaya, tanah ini adalah milik Pemerintah Kota Depok yang selama ini kurang dimanfaatkan, kondisi awalnya semrawut dan kumuh.

Pada mulanya areal ini pernah digunakan untuk beraktifitas oleh Group Teater Gedek. Dalam perjalanannya para anggota teater tersebut dengan dukungan penggiat seni di Kota Depok sepakat untuk mengelola lahan tersebut sebagai Rumah Budaya, dengan cakupan kegiatan yang lebih luas dan fleksibel. Apalagi mengingat Kota Depok sendiri sampai saat ini belum memliki sarana untuk berkesenian yang memadai.

Padahal kita tahu banyak seniman dari Kota ini yang memiliki prestasi secara nasional, namun karena kurang bisa berkreasi di Kota Depok, akhiranya justru mereka lebih dikenal, sebagai seniman Ibukota, DKI Jakarta.

Dalam kondisi serba keterbatasan keberadaan Rumah Budaya, terus menggeliat, berbagai kreatifitas, diskusi, panggung teater, kolaborasi seni musik, dan pentas pembacaan puisi sering digelar di tempat ini. Setiap akhir pekan tempat ini cukup ramai, anak-anak dan remaja dengan berbagai kegiatan kretifitasnya masing-masing, berlatih di sini.

Paling tidak inilah sumbang sih, para penghuni yang selama ini gigih mengelola Rumah Budaya di Kota Depok, untuk memberikan ruang apresiasi dan kepedulian bagi generasi muda untuk lebih mencintai dan peduli kepada sastra, seni dan budaya warisan leluhur yang saat ini banyak dilupakan. * (ratman aspari)

Komentar

Share This Post

Comments are closed.