Pihak Sekolah SDN Tugu 10 Dinilai Berbohong Dalam Berikan Keterangan

Margonda, Detif – Orang tua dari salah satu korban pelecehan seksual oknum guru honorer Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tugu 10, geram terkait pernyataan Pak Yusuf selaku wali kelas 6 SDN TUGU 10 kepada media.

Bersama suami, inisial Ly menemui Wartawan Depok Interaktif untuk mengklarifikasi pernyataan pihak SDN Tugu 10 di beberapa media. Pertemuan berlangsung di Coffe toffee, Jl. Margonda Raya No. 291, Beji, Depok. Kamis (7/6/2018)

“Bohong, masa dia (Yusuf) bilang sama wartawan, pihak orang tua siswa dengan sekolah belum pernah melakukan pertemuan, itu bohong, saya dan kepala sekolah sudah pernah melakukan pertemuan, pernyataan Pak Yusuf selaku wali kelas 6 sangat menyudutkan dan seolah-olah malah kami yang salah,” ujar Ly dengan nada kesal.

Menurut Ly peryataan pihak SDN Tugu 10 sungguh aneh dan tidak masuk akal. Ada satu kesan pihak sekolah hanya menjaga nama baik sekolah dan bahkan terkesan melindungi WR oknum guru.

“Bagaimana mungkin WR dan korban selama ini diam, terus dari mana pihak sekolah mengetahui, kan mereka tidak menceritakan pada guru lainnya,” ucap Ly

Kepada Depok Interaktif, Ly bersama suami menjelaskan kronologi tanggal per tanggal tindakan mereka saat mengetahui sang anak telah menjadi korban kejahatan seksual.

22. April 2018 Menceritakan atau membuat aduan ke P2TP2A Kota Depok dan dilayani oleh Ibu Fitri.

22. Mei 2018 P2TP2A memanggil saya dan anak untuk bertemu psikolog.

Mendapat kabar dari psikolog bahwa aduan sudah sudah sampai ke kepala dinas.

24. Mei 2018 Temu janji untuk cek trauma di TPA gedung baleka dengan psikolog P2TP2A

26. Mei 2018 Psikolog P2TP2A meminta saya bertemu kepala sekolah dan guru agama SDN Tugu 10.

31. Mei 2018 Psikolog P2TP2A ke SDN Tugu 10.

“Katanya ada proses pendampingan psikis kepada nama-nama terduga korban yang belum di approach oleh P2TP2A,”

4. Juni 2018 saya minta hasil lap observasi.

“Karena janjinya kepsek akan terus follow up, tapi saya tidak dipanggil-panggil maka saya dan seorang ibu korban mengambil inisiatif menemui kepsek, dimana kepsek katakan kalau sekolah ​tidak akan memecat guru terseb​ut, namun akan mendampingi secara psikologis dan melakukan pengawasan,”

5. Juni 2018 Ibu Fitri mau teruskan aduan-aduan dan temuan-temuan ke ​ketua​ P2TP2A.Kadis P2TP2A.

6. Juni 2018 lapor ke polres.

Lanjut Ly, sekian lama menunggu dan kecewa terhadap respon sekolah, ia bersama orang tua korban lainnya, melaporkan WR selaku guru honorer SDN Tugu 10 ke Polres Kota Depok.

“Tanggal 4 Juni pas pengumuman kelulusan siswa, saya bersama seorang ibu korban mendatangi kepala sekolah secara baik-baik, saya tanyakan perkembangan kasus anak saya, namun saya kaget saat ibu kepala sekolah minta tolong saya untuk menjaga nama baik sekolahnya, dengan alasan bahwa sebentar lagi ada penerimaan murid baru,” tutur Ly

Menurut Ly ada hal unik ketika ibu Ade Siti Rohima selaku kepala sekolah, meminta untuk belas kasih atas perbuatan WR, dikarenakan sang ibu WR mempunyai penyakit jantung. Hal senada juga dilakukan oleh guru agama pihak sekolah, dengan menekankan biaya, bahwa apa yang dilakukan WR merupakan suatu penyakit, diobati secara terapi dan onkos untuk sekali terapi hampir satu juta. Guru agama meminta belas kasih terhadap WR.

“Mereka memintah saya untuk berbelas kasih atas WR, tapi anak-anak yang menjadi korban disini, harusnya pihak sekolah lebih peduli kepada anak-anak, mereka masih SD sudah dikenalkan dunia orang dewasa, saya tidak ingin anak saya saat dewasa menjadi LGBT,” kata Ly dengan suara parau menahan tangis.

Selain pernyataan bohong Pak Yusuf selaku wali kelas kepada media, Ly bersama suami kecewa, sekian lama pihak SDN Tugu 10 mengetahui aduan orang tua murid, tidak ada langka hukum yang diambil pihak sekolah untuk oknum guru yang tega merusak anak didiknya sendiri.

“Saya kecewa masa pihak sekolah tidak ada insiatif melakukan laporan ke Polres Kota Depok dan hanya memecatnya, bahkan sampai sekarang belum ada permintaan maaf secara resmi dari pihak SDN Tugu 10,” sesal suami Ly. (Crt)

Komentar