Kabah

Oleh : Rusdi Mathari

KABAH. Pada masanya, Al Bayazid Al Busthami, orang yang dikenal sebagai sufi besar itu, pernah tiga kali pergi haji ke Mekah. Pada haji pertama, dia hanya terisak di depan Kabah, setiap hari. “Ya Allah, sesungguhnya aku belum berhaji sebab yang aku lihat hanyalah batu Kabah saja.”

Sepulang dari haji yang kedua, Bayazid masih juga menangis. Dia mendaku tetap belum berhaji karena merasa hanya melihat rumah Allah. Bayazid baru merasa menyempurnakan hajinya, usai dia berhaji untuk kali ketiga. “Kali ini aku tak melihat apa-apa kecuali Allah.”

Cerita Bayazid itulah, yang konon mendorong Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka menulis “Tasawuf Moderen” [Jaya Murni 1939]. Hamka ketika itu juga selesai pergi haji tiga kali, tapi hingga dua kali haji, dia juga terus bertanya-tanya.

“Jika Kabah dan juga kompleks Masjidil Haram di Mekah adalah benar Rumah Allah [baitullah], lalu apakah aku bisa menjumpai Allah di sana? Aku menunaikan haji dan bertamu ke rumah Allah, tapi tak kutemukan si Pemilik Rumah melainkan lautan manusia yang berputar mengelilingi Kabah.”

Sama dengan Bayazid, Hamka baru menemukan jawaban sewaktu dia selesai menunaikan haji ketiga: Allah si pemilik dan “tuan rumah” memang benar ada, tapi bukan di [dalam] Kabah, tidak pula di kompleks Masjidil Haram, apalagi di kota Mekah. Hamka menndaku “menemukan” Allah justru di hati.

Kabah, bagi kaum Muslim adalah kiblat. Sebuah titik di muka bumi, arah ke mana kaum Muslim menghadapkan wajah mereka setiap shalat. Setiap tahun ratusan ribu bahkan jutaan peziarah dari semua negeri Muslim datang ke Mekkah dan mengunjungi Kabah, melaksanakan qurban, memperbarui ketaatan mereka kepada Allah, dan berjanji untuk menjalankan suatu kehidupan baru yang pantas sebagai Muslim, manusia yang berserah diri.

Di luar fungsi sebagai kiblat, Kabah adalah juga situs sejarah perjuangan dari sebagian orang suci dan saleh. Nabi Ibrahim as. dibantu Nabi Ismail as., anaknya, membangun Kabah sehingga berbentuk seperti yang terlihat sekarang. Nabi Muhammad saw. membersihkan Kabah dari semua berhala Arabia, lalu menjadikannya sebagai sentral ritual kaum Muslim.

Pertanyaannya: kalau benar Kabah adalah Rumah Allah seperti Hamka pernah bertanya, apakah orang-orang yang berhaji lantas benar melihat Allah di sana?

Kabah, bisa dipahami secara harfiah dan dilihat secara jasad, tapi juga bisa dipahami secara lebih esensial dan dirasakan secara hakiki. Untuk konteks yang disebut terakhir, Kabah sebagai Bait Allah bukanlah dalam pemahaman bahwa Allah bermukim di sebuah tempat kudus seperti Kabah. Kabah hanyalah pertanda, hanya simbol, isyarat bagi sebuah pemahaman yang luas dan tak terbatas tentang Bait Allah yang sesungguhnya.

Maka ketika Nabi membersihkan dari [dalam] Kabah banyak berhala, yang sesungguhnya dimusnahkan adalah kebusukan hati dan kebodohan manusia. Dengan kalimat berbeda: bukan soal patung [yang dihancurkan] itu benar, pelajaran yang hendak disampaikan oleh Nabi kepada manusia, melainkan pelajaran untuk selalu membersihkan hati dari segala rupa berhala, sehingga manusia bisa bersikap sebagai manusia yang hanif. Manusia yang tidak mengikuti hawa nafsu.

Bait Allah [Kabah] yang sesungguhnya, karena itu harus dipahami tak hanya secara harfiah secara fisik [sekadar bangunan], sebab ada sesuatu yang lebih mendasar dan lebih penting dari sekadar itu, yaitu sesuatu yang tak tampak dan bersemayan pada hati [rasa] manusia. Di sanalah, di hati manusia itu, tempat “kabah” yang sesungguhnya berada, tempat seluruh tawaf perenungan harus selalu berputar, tempat berlari-lari kecil dari kehidupan dunia, dan melempar jumrah kebusukan nafsu. Penting karena itu, membersihkan “kabah” dari semua berhala yang bersarang di dalamnya.

Seorang Muslim yang [sesering apa pun] pergi ke Mekah untuk berhaji dan berharap menjumpai Allah di Kabah dan Masjidil Haram, karena itu dipastikan akan menelan kekecewaan, selama dia tidak sanggup membersihkan “kabah” dalam dirinya dari semua berhala kehidupan dunia. Hajinya mungkin juga akan sia-sia karena dia tidak menemukan atau tidak ditemui oleh “Tuan Rumah” si pemilik rumah, karena Allah dan Bait Allah tidaklah seperti yang dia bayangkan, tidak seperti yang dia pahami.

Hamka pernah kecewa karena pemahaman tentang Allah dan Bait Allah seperti yang diakuinya ternyata tidak tepat, sebelum dia akhirnya menyadari Bait Allah yang sesungguhnya adalah hati [qalbu] itu. Dan hati itulah yang semestinya dibersihkan dari semua berhala kesyirikan, nafsu, kebencian, dan semacamnya. Terus-menerus tanpa henti.

Komentar