Home Headline Ketika Teater Menjadi Alat Propaganda Perjuangan Pembebasan Rakyat Palestina

Ketika Teater Menjadi Alat Propaganda Perjuangan Pembebasan Rakyat Palestina

Rakyat Palestina melakukan intifadah dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya melalui jalur kebudayaan. Di sejumlah tempat pengungsian rakyat Palestina, berdiri kelompok teater.

Bagi para seniman, teater bisa menjadi senjata politik dengan gaya satire-nya. Selain itu, teater juga bisa menjadi sarana menyebarkan pesan ke rakyat banyak. Ibarat menabur benih, pesan-pesan perlawanan itu akan berbuah pemberontakan.

Salah satu kelompok teater yang terkenal adalah “Teater Kebebasan atau Teater Freedom”. Kelompok ini berdiri di kamp pengungsi di Jenin, sebuah daerah di Tepi Barat, Palestina. Teater ini berdiri tahun 2006.

Pendirinya bernama Juliano Mer-Khamis, seorang aktor sekaligus sutradara keturunan Palestina-Israel;  Zakaria Zubeidi, bekas pemimpin militer Brigade Al-Aqsa;  dan Jonatan Stanczak, seorang aktivis keturunan Swedia-Israel.

“Teater Freedom adalah tempat bagi rakyat Palestina dalam perjuangan pembebasan melalui puisi, musik, teater, dan kamera,” kata Mer-Khamis.

Menurut Mer-Khamis, pendudukan Israel tidak hanya mencaplok wilayah Palestina, tetapi juga menghancurkan identitas nasional dan struktur sosial bangsa Palestina. “Tugas kami sebagai seniman adalah membangun kembali yang sudah hancur ini. Tentang siapa kami, mengapa kami di sini, kemana kami akan pergi, dan apa yang kami inginkan,” ujarnya.

Mer-Khamis lahir di Nazareth, sebuah kota kuno di Israel utara, tahun 1958. Ayahnya bernama Saliba Khamis, seorang Palestina yang memimpin Partai Komunis di Israel. sementara ibunya, Arna Mer, seorang pemain drama keturunan Yahudi. Lantaran itu, Mer-Khamis selalu menyebut dirinya “100% Palestina dan 100% Yahudi.”

Tetapi, aktivitas Mer-Khamis tidak berlangsung lama. April 2011 lalu, Mer-Khames ditembak mati. Sampai sekarang pelaku dan motif penbunuhan itu belum terungkap. Banyak pihak yang menuding militer Israel terlibat. Tak lama setelah kejadian itu, tentara Israel menyerang teater tengah malam. Selain mengobrak-abrik teater, militer juga menangkap sejumlah pekerjanya.

Tetapi Teater Freedom jalan terus. Di bawah tajuk “Perlawanan Melalui Budaya”, Teater ini telah memproduksi tiga pementasan menakjubkan, yakni Animal Farm (2009), Alice in Wonderland (2010), dan “While Waiting” (2011). Tak hanya itu, Teater Freedom telah membuat program khusus untuk mengajari anak-anak Palestina dengan pembuatan film, photograpy, akting, psikodrama dan menulis kreatif.

Pada Desember 2012 lalu, Teater Freedom melakukan tour keliling bertajuk “The Freedom Bus” ke seluruh Tepi Barat. Di sana mereka mengumpulkan penduduk, menggelar pementasan, dan bercerita. Mereka berharap, kegiatan ini tidak hanya sekedar menghibur, tetapi juga mengajak rakyat Palestina menyuarakan ketertindasan mereka dan berlawan.

Penguasa Israel jelas terusik oleh aktivitas teater ini. Bagi penguasa Israel, teater ini hanya alat untuk menyebar pesan subversif di kalangan luas rakyat Palestina. Selain itu, penguasa Israel menuding teater ini juga memproduksi pemberontak dan martir.

Langkah represif pun diambil. 24 Juni lalu, pemerintah Israel melarang sebuah teater di Jerusalem Timur menggelar sebuah festival boneka anak-anak. Tak hanya itu, El-Hakawati–nama kelompok teater itu–ditutup oleh militer Israel dari tanggal 22 Juni hingga 30 Juni 2013.

Teater El-Khawati memang hanya teater boneka anak-anak. Tak jauh beda dengan film kartun “Spongebob” di TV. Hanya saja, kisah yang diangkat teater ini terkadang menyerempet soal pendudukan. Karena tak punya alasan legal untuk melarang El-Khawati, maka dalih bahwa Festival Teater Boneka ini didanai oleh otoritas Palestina pun dipakai.

Tak hanya menyasar Teater Palestina, yakni Teater Freedom dan El-Khawati, tetapi Israel juga menyerang kelompok teater kritis di negerinya sendiri, yakni Teater Khan. Teater ini berada di Yerussalem Barat.

Awalnya, kelompok Teater Khan mementaskan pertunjukan drama berjudul “My Name is Rachel Corrie”. Rachel Corrie adalah aktivis berkebangsaan AS yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Internasional untuk Palestina.

Tahun 2003 lalu, Rachel Corrie dengan gagah berani pasang badan di hadapan sebuah Buldoozer yang akan meruntuhkan bangunan milik warga di Jalur Gaza. Bukannya berhenti, Buldozer itu melindas tubuh Rachel Corrie. Ia pun tewas karena kejadian itu.

Ironisnya, setelah 9 tahun keluarga Corrie menuntut keadilan atas kematian anggota keluarganya, pengadilan Israel justru membebaskan pemerintah Israel dari tuntutan menghukum si pengemudi Buldozer.

Pementasan pertama “My Name is Rachel Corrie” di London, tahun 2005. Rencananya, pementasan serupa akan dilakukan di Israel oleh Teater Khan pada bulan Juli ini. Tetapi Walikota Yerussalem, David Hadari, mengancam akan menghentikan bantuan ke Teater Khan bila pementasan itu tetap dilakukan. Inilah cara pemerintah Israel menekan seniman untuk menyuarakan kritik mereka terhadap ketidakadilan.

Raymond Samuel

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/20130710/ketika-teater-mengancam-kekuasaan.html#ixzz2Yknlk8pr
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

- Advertisement -
- Advertisement -

Jawa Barat

DEPOK ZONA MERAH COVID-19 DI BODETABEK

DEPOK- Kota Depok memiliki tingkat yang keakutan tinggi dalam penularan COVID-19 di antara kota dan kabupaten lain yang berbatasan dengan episentrum DKI Jakarta terhadap...
- Advertisement -

DJC Bagikan Bantuan Sembako dari Qonita

DEPOK - Bertepatan dengan hari Kartini, Bakal Calon (Balon) Walikota Depok dari Partai Persatuan Pembangunan Kota Depok Hj. Qonita Luthfiah, memberikan bantuan Sembako kepada...

Walikota Depok Keluarkan 12 Jurus Pencegah COVID-19

MARGONDA - Dalam melawan penyebaran wabah Virus Corona (Covid-19) ditengah warga, Pemerintah Kota Depok mensosialisasikan 12 cara atau jurus untuk pencegahan penyebaran Covid-19.Walikota Depok Muhammad...

Ndaru Siap Menghadapi pemilihan Duta Baca Jawa Barat

Duta Baca kota Depok Ndaru Luriadi akan mengikuti pemilihan Duta Baca Jawa Barat untuk 2020 yang dilaksanakan di Bandung pada 10 sampai 12 Maret.Pada...

Berita Terkait

Musisi Agung Saget Kecewa Tak Ada Cawalkot Komitmen Bangun Gedung Kesenian

 DEPOK - Setelah penyair Tora Kundera menyatakan sikap tidak mendukung kedua pasangan Calon Walikota Depok di Pilkada 2020 dikarenakan tidak ada yang mau komitmen...

Forum Aktivis Depok Ajak Seluruh Masyarakat Depok Untuk Tunda Pilkada 1 Tahun

 DEPOK - Para aktivis Depok yang khawatir dengan kondisi perkembangan Bencana Virus Corona yang semakin memprihatinkan, mendesak Pemerintah dan KPU untuk menunda perhelatan PILKADA...

HUT DPRD Kota Depok dan Rapat Paripurna Jawaban Walikota Depok Atas Pandangan Umum Fraksi DPRD Kota Depok Terhadap 4 Raperda

CILODONG - DPRD kota Depok Gelar Rapat Paripurna dalam rangka Penyampaian pandangan umum fraksi-fraksi DPRD terhadap 4 Raperda Pemerintah Kota Depok dan jawaban Walikota...

Tidak Ada Kenaikan Tarif PDAM Tirta Asasta Depok Sejak 2017-2020

SUKMAJAYA - Adanya beberapa keluhan dari pelanggan terkait besaran tagihan penggunaan air PDAM, pihak PDAM Tirta Asasta kota Depok merespon hal tersebut tidak terlepas...

Aksi Kamisan Depok Tuntut Pemkot Segera Bangun Gedung Kesenian

CIMANGGIS - Sejumlah aktivis, seniman dan mahasiswa di Kota Depok yang rutin melakukan Aksi Kamisan Depok, pada hari kamis 27 Agustus 2020 kemarin kembali...