Home Headline Ternyata Punk Berteriak Untuk Pembebasan

Ternyata Punk Berteriak Untuk Pembebasan

Depok Interaktif – Malam telah meneyeruak di Joglo Beer, Kemang, sabtu 3 maret lalu. Seorang terlihat sibuk mengerjakan mural pada sebuah papan triplek. Seperti tidak peduli dengan kebisingan disekitarnya, ia hanya menatap papan triplek dan tangannya terus menggambar atau mencelupkan kuas ke gelas plastik yang ia pegang. Muralnya bertuliskan “making punk fun again”. Masih begitu polos, nampaknya butuh waktu berjam-jam lagi untuk menyelesaikannya.

Sebagai latar stage, berdiri tiga maskot serupa buaya, tengkorak, dan babi yang terbuat dari kertas karton, kardus dan lengannya dari botol mineral yang disambung-sambungkan. Ini adalah hasil karya komunitas taring babi — wadah tempat anak-anak marjinal untuk berkarya. Ketiganya sarat akan unsur kritikan, misalnya untuk buaya (sebuah personofikasi pada lembaga penegakan hukum kejaksaan dan kepolisian ) memakai kacamata 3D, lalu babi berwarna pink memakai dasi dan dadanya tertulis korup.

Saya berada di serambi Joglo Beer dan bersandar pada sebuah tiang untuk memastikan posisi saya bisa menyaksikan aktivitas orang-orang yang ada di situ. Ada dua bule, seorang tampak kontras terlihat mengenakan baju tolak reklamasi ada di gigs punk. Lalu panitia juga menyediakan kotak sumbangan sukarela untuk korban banjir dan longsor di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Acara hear the sound sudah berjalan sejak siang tadi diisi oleh kolaborasi Bob Marjinal dan Gus Bill mengerjakan sebuah mural. Lalu malam ini akan ada penampilan beberapa band ska, rock, dan punk. Termasuk Bob Marjinal juga akan tampil.

Diluar dari kostum punk pada umumnya yang identik dengan emblem-emblem atau stud spike. Dengan rambut gimbal, tangan dan leher penuh tato, Bob malam itu mengenakan batik hitam emas. Kesan garang atas penampilan punk yang menjadi stigma di masyarakat dibantah oleh Bob. “gua ngga pernah lihat dia harus mohawk, dia harus tatoan, dia bisa mian musik tapi selama dia jadi diri sendiri menurut gua dia punk. Punk kan intinya menjadi diri sendiri”, tegasnya.

Melalui kegiatan-kegiatannya bersama marjinal di komunitas taring babi, Bobby Firman Adam ingin menunjukkan bahwa dengan penampilannya bukan menjadi alasan untuk tidak berbaur dimasyarakat, misalnya dengan gerakan kebudayaan dan seni: bermusik, cukil kayu, sablon, dan lainnya. Dengan itu masyarakat bisa menerima kita dengan lapang dada. “Jadi lebih ke minimal yang kita punya harus kita maksimalkan untuk tujuan kita.” Kata Bob, bangga.

Tahun 1996 perkenalannya dengan punk dimulai, ia bertemu dengan Mike (vokalis-gitar marjinal) dan teman-teman yang lainnya. Saat itu suhu politik meninggi dimana rakyat bersatu untuk meruntuhkan rezim soeharto. Mike dan yang lainnya muncul dengan rambut mohawk, rajah, dan memakai anting, terlihat seperti tidak memiliki tujuan hidup. “Ternyata cara pandang gua salah, ternyata gua belajar dari teman-teman bahwa punk itu suatu pilihan hidup dimana intinya adalah belajar, kita belajar dengan kondisi apaun ya, kondisi negeri ini yang carut-marut, yang korupsi, yang banyak ketidakadilan dan ketimpangan-ketimpangan,” kata Bob. Kemudian mereka terlibat dalam beberapa aksi demontrasi kala itu.

Punk selalu dikaitkan dengan sebuah ideologi anarkisme. Bobby mencoba menjelaskan secara sederhana jika anarkisme adalah tanpa pemerintah, artinya setiap individu akan menentukan hidupnya sendiri. Individu-individu yang merdeka itu saling menghormati dan peduli satu sama lain.

Ternyata punk itu berteriak tentang pembebasan, sambungnya kemudian. Sebenanrnya dari kultur perlawanan dan pembebasan akhirnya ada kebutuhan untuk menyebarkan informasi, salah satunya dengan musik. Mereka lalu membentuk sebuah band punk yang nama awalnya adalah Anti ABRI kemudian berganti Anti Military yang sekarang dikenal dengan Marjinal. Kenapa dulu mesti pake nama anti? “Kita mau anti aja,” jawab Bob dengan enteng.

22 tahun lalu dibulan desember, juga tanggal 22, band ini terbentuk. Pertemuan mereka terjadi di sebuah kampus grafika di Jakarta Selatan. Mereka tidak hanya berkutat dengan urusan seni rupa tapi banyak mendiskusikan kondisi rezim kala itu. Untuk memperkuat gerakan, mereka membangun jaringan anti fasis yang diberi nama Anti Fascist and Racist Action (AFRA).

Kadang ketika ingin membaca literatur anti fasis yang berbahas inggris, Bobby meminta bantuan ke temannya untuk menerjemahkan. Seperti yang diceritakan Boby kepada jurnalruang.com, mereka juga membaca buku-buku, seperti Di Bawah Bendera Revolusi (Soekarno), Madilog (Tan Malaka), Tertalogi Buru dan Nyanyian Sunyi Seorang Bisu (Pramoedya Ananta Toer), walaupun harus secara sembunyi-sembunyi karena buku seperti itu dilarang.

Ketika terlibat dalam aksi demonstrasi, biasanya mereka akan berada di truk paling depan dan tampil dengan bermain musik. Karena latar belakang inilah maka disetiap lagu Marjinal nyaris mengandung unsur perlawanan terhadap ketidakdilan dan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi.

MARJINAL: Punk Untuk Pembebasan.

Nama Marjinal itu sendiri muncul dari Mike dan terinsiprasi dari seorang aktivis buruh perempuan Marsinah. Saat ini marjinal sering tampil dengan formasi, Mike (vokal-gitar), Bob (bass), Boy (akordeon), dan Bim (jimbe). Suara musik yang mereka hasilkan pun lebih mendekati folk-irish. Marjinal bukan band yang tipikal dengan hingar-bingar.

Bisa dikatakan jika Marjinal memiliki dua frontman sekaligus, yaitu, Mike dan Bobby. Keduanya sering muncul dalam acara talkshaw di telivisi.

Mike adalah anak seorang tentara dan aksi-aksinya sering berhadapan dengan aparat negara. Bobby adalah anak seorang guru mengaji, ia orang yang pertama bertato di keluarganya. Mereka lalu memiih hidup mandiri, keluar dari lingkungan keluarga. Untuk meyokong hidup, mereka biasa menjajakan kartu ucapan selamat kala itu.

Tidak seperti Mike dan Bobby yang memutuskan untuk tidak menyelasaikan kuliahnya, Petrus Djeke aka Boy Marjinal lulusan sarjana hukum di Universitas Janabadra, Yogyakarta. Semasa kuliah ia bergabung di FMN (Front Mahasiswa Nasional), menyelesaikan studinya selama 7 tahun dari 2001. Tidak lama setelah lulus ia bertemu dengan komunitas Taring Babi dan Marjinal. Ia melihat bahwa band ini menyuarakan hak masayakarat kelas bawah, karena sejalan dengan pandangannya sehingga ia memutuskan untuk bergabung.

Marjinal menganggap lagu yang dibuatnya adalah sebagai salah satu catatan sejarah baginya, misalnya lagu tentang kereta kelas ekonomi di Jakarta. Saat itu orang sampai naik di atap kereta sehingga banyak yang jatuh, juga terjadi kecopetan, dan pelecehan seks. Itu semua terjadi dan marjinal menceritakan melalui lirik-liriknya.

Memang lagu-lagu Marjinal sangat dekat dengan kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar dan sarat akan kritikan sosial. Tentang buruh misalnya, Marjinal mengkritik upah yang didapatkan oleh para buruh dan banyak yang kurang menghargai profesi kerja mereka sementara yang membangun gedung-gedung pemerintah, sekolah, dan fasilitas umum lainnya adalah buruh.

Lagu mereka yang paling teranyar dalam menyuarakan kritikan yaitu kisah tentang buruh perempuan yang melakukan protes lantas terbunuh, ya, Marsinah. Nama itu kemudian menjadi judul lagu yang juga sebagai judul Album pada tahun 2003. “Kita sangat beragam kalau secara isu, ada tentang pegunungan kendeng, ada tentang reklamasi, tentang keberagaman.”

Solidaritas Marjinal terhadap gerakan-gerakan HAM dan lingkungan tidak hanya dalam bentuk lagu yang diciptakan. Marjinal terlibat langsung dalam mengawal kasus reklamasi teluk Benoa dan penolakan pabrik semen di Kendeng. Mereka mengunjungi langsung tempat itu dan juga turun ke jalan bersama para demonstran. Beberapa kali Marjinal juga terlihat di aksi Kamisan yang digerakkan oleh para penyintas korban HAM.

Penjualan Album AFRA — sebuah album yang berisi kompilasi dari lagu-lagu di album sebelumnya — seharga 150 ribu, 40%nya mereka donasikan untuk perjuangan masyarakat kendeng, aksi Bali tolak reklamasi, dan pembangunan Mushola Pesantren Darul Hijroh Buntet Cirebon.

Kalimat seperti, Do it together dan No border No class, sering kita jumpai disetiap postingan mereka di akun sosial media, seperti instagram. Memang Marjinal menunjukkan jargon itu tidak hanya sebatas kata tapi sebuah aksi nyata. “Besok kami [Marjinal] ke acara ulang tahun Yayasan satu keadilan di Bogor, mereka minta di bantu urus dekorasi dan sound. Apa yang bisa kita bantu, ya kita lakukan,” kata Bob.

Lagu-lagu dari Marjinal tergolong sederhana, bukan hanya dari lirik tapi dari musik yang diciptakan. Mereka tidak hanya menggunakan alat musik elektronik tapi suara dari alat musik tradisional seperti karinding, suling bambu, mandolin, akordeon, banjo juga dihadirkan. Kadang juga mereka tampil dengan musik akustik. “apa yang terjadi di sini kita kemas secara asik dan ngga terlalu berat liriknya.” Bobby menambahkan.

Bobby mengatakan kayak di negara seperti Irish itu mereka bereksplorasi dengan bagpai, suling, dan kita di Indonesia punya gamelan yang bernada pentatonik, salah satu ciri khas negara ini. “dan gua perhatiin jika beberapa band disini juga mulai mau masukin instrumen-instrumen lokal, itu sangat menarik.”

Jadi Marjinal sebenarnya bukan sekadar band, tapi kolektif bermusik. “Yahh keluarga bermusik,” Katanya, lalu diikuti dengan senyum. Mereka tidak pernah membatasi ruang-ruang berkespresi dan membuka ruang kepada individu-individu diluar Marjinal untuk terlibat dalam proses pengkaryaannya.

Musikmu, Ya Musikmu

Malam semakin larut di hear the sound, sudah pukul 11:20. Setelah berpogo-pogo bersama Denny Frust dan High Moon yang beraliran ska, panggung segera berubah haluan ke punk.

“kami TenHoles,” teriak Ukien parau, yang tiba-tiba muncul dari intro yang dimainkan TenHoles sejak tadi. “this is fucking loyalty,” teriaknya lagi. TenHoles adalah band punk pertama yang tampil malam itu.

Tiba pada lagu “Bergerak” penonton merebut mic Ukien dan berteriak layaknya sang vokalis. Ukien melakukan crowd surfing dan beberapa saat kembali lalu menguasai mic-nya dan meneriakkan, “this is about punk skin.” Penonton yang berada di sampingku bergerak menuju kerumunan sambil mengepalkan tangan dan meninju udara mengikuti ritme lagu, di belakang bajunya tertulis fuck the rules.

TenHoles sering diidentikkan dengan skinhead, ini juga bukan tanpa alasan. Karena melihat beberapa personilnya botak, memakai boots, bretel, dan jeans yang memang itu adalah lifestyle skinhead. Sebenarnya skienhead berbeda dengan punk rock, dahulu ia lebih dekat dengan ska dan regge karena ada pengaruh kultur Jamaica. Lalu kelas pekerja inggris mengadopsinya dengan bercukur botak karena melihat orang berkulit hitam itu kebanyakan yang botak.

Ukien menegaskan bahwa skinhead itu sebuah budaya hidup kelas pekerja yang kemudian sekarang ini terepresentasi sebagai fashion statement.

skinhead itu kalau yang gua lihat sekarang mereka beradaptasi, ketika ada era punk rock lahirlah sebuah oioi musik, ketika ada musik hardcore punk, misalnya lho tau Agnostic Front pun sempat pake doc martin.” Ungkapnya. Akhirnya ia menyimpulkan jika skienhead bisa beradaptasi dengan perubahan zaman tapi budaya mereka tetap etos kerja kelas bawah.

Perbincangan kami hampir tertutupi oleh Speak Up — band punk yang tampil setelah TenHoles — yang mengcover lagu terpopuler NOFX, yaitu radio, diikuti juga teriakan penonton yang menikmati lagu itu . Ukien mengerti situasi dan meninggikan volume suaranya, mahfum ia juga pernah menjadi wartawan di beberapa media di Jakarta.

TenHoles adalah sebuah band bergenre celtic punk yang ada sejak tahun 2004. “Awalnya kita bawain oi oi musik, street punk, setelah dengar Dropkick Murphys kita memutuskan untuk memeberi sedikit sentuhan celtic punk di Tenholes dengan adanya mandolin,” jelas Ukien.

Celtick punk adalah sebuah musik original folk Irish yang dilebur bersama musik punk rock. “Paling ngga ada salah satu unsur instrumen tradisionalnya irlandia masuk ke musik punk rock itu, yang paling dominan misalnya mandolin, biola, bagpipe, dan tin whistle,“ lanjutnya.

Di Jakarta, TenHoles menjadi band pertama yang mebawakan musik celtic punk. “untuk siapa yang memulai pertama kali di dunia sebenanrnya masih abu-abu, kayak misalnya The Pogues di tahun 1982, awalnya sih mungkin The Pogues ya, terus ada The Real McKenzies, Flogging Molly terus ada Dropkick Murphys,” kata Ukien.

Hampir sama seperti Marjinal, Tenholes juga memiliki beberapa lagu yang sangat frontal bermakna pelawanan dan pembebasan. Paling jelas ada pada lagu “ikat kepala” di album Loyalty. Penggalan liriknya begini, “menolak! Menolak lupa jangan padamkan api yang abadi. Menolak lupa, jangan biarkan ditelan bumi.” Mereka bercerita mengenai kasus Hak Asasi Manusia di Indonesia yang belum juga tuntas.

Selain itu nuansa optimisme personal dan kelompok juga tergambarkan dalam beberapa laguya. Semisal “standing strong” yang mencoba membebaskan seseorang dari rasa frustasi. “kami disini” adalah sebuah lagu yang mengajak untuk bangkit bersama dan saling mendukung.

Keseriusan perbincangan kami membuat Ukien lupa membakar rokoknya yang dari tadi hanya diketuk-ketukan di atas meja. Sebenarnya ia beberapa kali terlihat melirik ke rokoknya, tapi tetap meneruskan penjelasannya.

Tapi di scene musik punk sendiri juga ia katakan masih sering terjadi perbedaan dan perdebatan yang biasanya mengakibatkan celah. Perbedaan yang terjadi itu juga diamini Bobby, “kita ngga bisa menyeragamkan, tetap ada dan itu sah-sah aja, yah permasalahan tentang anti ini, anti itu, bla bla bla kembali lagi ke pilihan orang itu kita ngga bisa maksain,” akunya.

Kemudian Ukien dengan tegas mengatakan bahwa punk memang memiliki unsur pemberontakan dan pembebasan, begitu pula dengan liriknya. Sehingga yang paling penting baginya, bagaimana pesan itu bisa sampai ke penonton dengan baik.

Karena esensi punk adalah kebebasan maka kata Ukien, “ketika musik lho di atur dan lho ikuti aturannya itu lho menghianati keyakinan lho sebagai punk. Musik lho ya musik lho. Kalo lho sampe di atur sama label, badan usaha, brand, atau apapun lho menghianati keyakinan lho.

Setelah selesai berbincang dengan posisi berdiri selama hampir 20 menit, membuatnya segera ingin duduk sambil minum bir. “ayo bil, cari minum dulu”, ajak Ukien sambil memberikan kode dengan anggukan. Saya balas juga dengan anggukan dan mengikutinya berjalan. Saya kemudian memandang ke mural yang tadi. Sudah hampir selesai ternyata. Tulisan good old daysrespect alertfuck the rest, dan beberapa yang lainnya sudah mengisi bagian yang kosong. Perpaduan warna, merah, hijau, ungu, hitam, kuning menghidupkan muralnya dan tidak polos lagi.

- Advertisement -
- Advertisement -

Jawa Barat

DEPOK ZONA MERAH COVID-19 DI BODETABEK

DEPOK- Kota Depok memiliki tingkat yang keakutan tinggi dalam penularan COVID-19 di antara kota dan kabupaten lain yang berbatasan dengan episentrum DKI Jakarta terhadap...
- Advertisement -

DJC Bagikan Bantuan Sembako dari Qonita

DEPOK - Bertepatan dengan hari Kartini, Bakal Calon (Balon) Walikota Depok dari Partai Persatuan Pembangunan Kota Depok Hj. Qonita Luthfiah, memberikan bantuan Sembako kepada...

Walikota Depok Keluarkan 12 Jurus Pencegah COVID-19

MARGONDA - Dalam melawan penyebaran wabah Virus Corona (Covid-19) ditengah warga, Pemerintah Kota Depok mensosialisasikan 12 cara atau jurus untuk pencegahan penyebaran Covid-19.Walikota Depok Muhammad...

Ndaru Siap Menghadapi pemilihan Duta Baca Jawa Barat

Duta Baca kota Depok Ndaru Luriadi akan mengikuti pemilihan Duta Baca Jawa Barat untuk 2020 yang dilaksanakan di Bandung pada 10 sampai 12 Maret.Pada...

Berita Terkait

Forum Aktivis Depok Ajak Seluruh Masyarakat Depok Untuk Tunda Pilkada 1 Tahun

 DEPOK - Para aktivis Depok yang khawatir dengan kondisi perkembangan Bencana Virus Corona yang semakin memprihatinkan, mendesak Pemerintah dan KPU untuk menunda perhelatan PILKADA...

HUT DPRD Kota Depok dan Rapat Paripurna Jawaban Walikota Depok Atas Pandangan Umum Fraksi DPRD Kota Depok Terhadap 4 Raperda

CILODONG - DPRD kota Depok Gelar Rapat Paripurna dalam rangka Penyampaian pandangan umum fraksi-fraksi DPRD terhadap 4 Raperda Pemerintah Kota Depok dan jawaban Walikota...

Tidak Ada Kenaikan Tarif PDAM Tirta Asasta Depok Sejak 2017-2020

SUKMAJAYA - Adanya beberapa keluhan dari pelanggan terkait besaran tagihan penggunaan air PDAM, pihak PDAM Tirta Asasta kota Depok merespon hal tersebut tidak terlepas...

Aksi Kamisan Depok Tuntut Pemkot Segera Bangun Gedung Kesenian

CIMANGGIS - Sejumlah aktivis, seniman dan mahasiswa di Kota Depok yang rutin melakukan Aksi Kamisan Depok, pada hari kamis 27 Agustus 2020 kemarin kembali...

Aktivis & Seniman Depok Aksi Menuntut Bebaskan Jerinx SID

 DEPOK - Puluhan aktivis dan seniman Kota Depok yang rutin menggelar Aksi Kamisan Depok pada 13 Agustus 2020 di Depan Stadion Merpati melakukan aksi...