Hukum & Kriminal Sorot 

Kurir 2 Kg Shabu Divonis Waka PN Depok 13 Tahun Penjara

 

Foto: Ilustrasi

DEPOK – Seorang kurir atau perantara dalam jual beli Narkotika Golongan I jenis shabu-shabu yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai terdakwa di persidangan, divonis Majelis Hakim yang dipimpin Wakil Ketua (Waka) PN Depok, Jawa Barat, Nenny Yuliany berupa pidana penjara selama 13 tahun. Padahal terdakwa diancam hukuman penjara paling lama 20 tahun, pidana seumur hidup atau pidana mati. Lantaran terdakwa dijerat ayat (2) dalam Pasal 114 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Terdakwa Aleks Adolp (60) ditangkap Tim Satgas Direktorat Narkoba Bareskrim Mabes Polri bersama-sama dengan Rezasyah Soesetyanto (berkas penuntutan terpisah).

Sebelumnya Anggota Kepolisian menangkap Rezasyah terlebih dulu sekira pukul 11.00 wib di Jalan Gang Jambu No.43 RT.01/RW.11 Kelurahan Lewinanggung, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Sabtu (9/2/2019).

Saat ditangkap Rezasyah mengaku barang haram shabu yang didapati dari terdakwa Aleks tersebut adalah miliknya yang diambilnya sekitar bulan Februari 2019 di Parkiran Mall Kalibata sebanyak lima bungkus dimana satu bungkusnya seberat satu kilogram dengan upah yang dijanjikan sebesar Rp 50 Juta sampai Rp 70 Juta atas perintah Saudara Haji Yudi (DPO).

Setelah mendapatkan shabu, Rezasyah menghubungi terdakwa Aleks, memberitahu ada kerjaan mengantar shabu dengan upah dari pemilik sebesar Rp 30 Juta sampai Rp 50 Juta yang disanggupi oleh terdakwa.

Berselang dua hari, Haji Yudi menghubungi Rezasyah agar melakukan pengiriman dua bungkus shabu dengan berat dua kilogram. Pekerjaan itu selesai dilakukan lalu Rezasyah menghubungi Haji Yudi untuk melaporkan bahwa kerjaan sudah selesai.

Pada 05 Februari 2019 sekira pukul 16.00 wib, Haji Yudi menghubungi Rezasyah agar menemui Mr. X untuk mengambil shabu di Parkiran Plaza Cibubur. Setiba di lokasi, Rezasyah menerima koper warna hitam merk Conditti dari Mr. X yang dibawa ke rumah kontrakannya. Ketika dibuka, ternyata di dalam koper tersebut berisikan 18 bungkus plastik bening berbentuk kristal yang diduga shabu dengan berat satu bungkus diperkirakan seberat satu kilogram.

Selanjutnya, Rabu (9/2/2019), Haji Yudi menghubungi Rezasyah agar mengirim dua bungkus shabu seberat dua kilogram. Lalu Rezasyah menemui terdakwa Aleks dengan memberikan bungkusan barang haram tersebut beserta secarik kertas yang bertuliskan No Hp ke daerah PGC Jakarta Timur.

Kemudian secarik kertas itu oleh terdakwa disimpan lalu berangkat dengan membawa tas jinjing warna hijau ke arah Ramayana Cibubur. Tiba di lokasi, terdakwa melanjutkan perjalanan dengan menumpang Taksi Blue Bird dengan tujuan PGC Jakarta Timur.

Sesampainya di PGC, terdakwa meletakkan koper itu di bawah pohon besar yang ada lubangnya lalu menghubungi No HP yang sebelumnya diberikan Saudara Rezasyah. Lantaran dihubungi oleh terdakwa Aleks tapi No HP tersebut gak aktif kemudian barang haram itu oleh terdakwa dibawa pulang kembali.

Dalam perjalan pulang, terdakwa Aleks mampir makan di Warung Tiga Bersaudara Jalan Otto Iskandar Dinata No.85 Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

Saat sedang makan, terdakwa Aleks disergap dan ditangkap Petugas Kepolisian. Lalu dilakukan penggeledahan, didapati barang bukti berupa satu buah tas jinjing warna hijau yang didalamnya berisi satu bungkus shabu seberat 1.015 gram dan satu bungkus shabu dengan berat 1.014 gram dengan total keseluruhan seberat 2.029 gram atau seberat dua kilogram beserta dua buah Hp Nokia warna hitam.

Atas perbuatannya, JPU Rozi Juliantono menuntut terdakwa Aleks bersalah melanggar Pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Menuntut terdakwa Aleks berupa pidana penjara selama 17 Tahun dan pidana denda sebesar Rp 10 Milyar subsider enam bulan penjara,” tutur Rozi.

Terhadap Tuntutan JPU itu, Majelis Hakim yang dipimpin Nenny Yuliany dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan JPU.

“Mengadili. Menyatakan terdakwa Aleks bersalah tanpa hak dan melawan hukum melakukan pemufakatan jahat menjadi perantara dalam jual beli Narkotika Golongan I bukan tanaman. Menjatuhkan putusan terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 13 Tahun dan denda sebesar Rp 10 Milyar dengan ketentuan apabila denda tersebut tak dibayarkan, diganti pidana kurungan selama enam bulan penjara,” ujar Nenny.

Dalam menyikapi putusan, terdakwa melalui Penasehat Hukumnya dari Posbankum PN Depok Jansen Ginting dari LBH Sinar Pagi menyatakan menerima putusan sedangkan JPU pikir-pikir selama tujuh hari. Akan tetapi, setelah waktu pikir-pikir sudah habiz hingga Jumat (30/8/2019), JPU tidak menyatakan banding meskipun vonis Hakim tersebut lebih ringan dari Tuntutan JPU. (JIMMY)

Komentar

Berita Terkait